
Alhamdulillah Alloh SWT maha pengasih, penyayang dan pengampun adalah penyelesai segala urusan. Kewajiban hamba-Mu ini hanya menjalankan titah-Mu, yang memiliki keputusan hanya-Engkau.
Berfikir adalah salah satu pekerjaan akal, jangan berfikir melampui kemampuan kapasitas akal diri
Berfikirlah sederhana agar masalah kecil tetap kecil sehingga mudah selesai
Berfikirlah tentang diri agar diri menjadi lebih diharapkan
Hidup ini tidak lain putaran komunikasi dari satu peristiwa ke peristiwa, buatlah peristiwa itu menjadi harapan jangan sebaliknya
Manusia pilihan bukanlah manusia dalam zona nyaman tetapi manusia yg berada pada zona penuh terpaan badai
Badai terbesar di alam fana ini adalah melupakan Tuhan dalam benafas untuk segala aktifitas
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْۚ
Ayat ini dpt dijadikan pengingat
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ
Demikian juga ayat ini
Saudaraku…hidup ini berjalan di dua arah benar#salah, baik#buruk sudah maklum
Ada sisi kehidupan yg gelap ketika bergerak diarah kepalsuan atau bahasa agamanya kemunafikan
Kemunafikan sedah berlangsung ketika Rosul kita berada di Madinah
Puncaknya mereka al-munafiqun mencoba menguji ke-Islaman para Shahabat, puncaknya terjadi perang Yamamah.
Hati hati kawan dengan sifat kepalsuan yg sudah terbukti dapat memicu perang yg sangat besar pada masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq.
Tokoh utama pada waktu itu adalah Musailamah al-Kadzab, jika menemukan sifat kepalsuan sebaiknya dijauhi sebelum terjadi peristiwa besar yg tidak diinginkan
Semoga kehidupan ini penuh dengan rahmat dan rohman-Nya sehingga tercipta kedamaian dan ketentraman.
“Waspadalah Saudaraku”
Suatu saat sy berkunjung ke rumah ulama’ beliau sedang menghitung uang
Uang itu di pilah2 menjadi dua kelompok, anehnya tidak di kelompokan berdassr nilai.
Satu kelompok di kembalikan kepada pemiliknya dengan berkata “iki sing apik gowoen” “iki sing elek tak gowone”
Saudaraku ulama’ ini tahu apa yg tidak di ketahui oleh kebanyakan orang, Ulama’ ini telah dibukakan rahasia-Nya.
Ada lagi Ulama’ yg mengatakan “setiap uwong sing mertamu nang aku wajahe sing akeh rupo kewan
Kata beliau “sing akeh bedes (kera)ambek asu (anjing)”
jaga “ruh” jagan dikotori agar bisa kembali dalam keadaan “muthma’innah”
Saudaraku hidup ini akan berakhir kecuali “ruh”
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم2675
Hadis tersebut adalah hadits Qudsi yg keshahihanya tidak diragukan lagi
Hadits tsb dapat di jelaskan bahwa manusia itu dititi Alloh kukuatan-Nya yg tidak pernah bohong, dlolim, munafiq, ia adalah sifat-sifat-Nya
Sifat-sifat-Nya tsb jika dikotori dengan kemunafikan, kebohongan, kdloliman ia akan keluar memberitahu melalui roso
Roso yg keluar adalah roso negatif yg ini dapat ditangkap oleh manusia yg diberi-olehNya “mata hatinya hidup” dlm bhs psikologi “kecerdasan ke lima”
Nah tidak heran manusia yg sudah mencapai kecerdasan kelima atau mata hatinya hidup ini setiap bertindak, bersikap mengikuti kemsuan hati manusia yg dihadapi.
dalam bahasa sederhana “mau ente apa sih…akan gue ikuti kemauan lu”
(أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي)
jika mata hati hidup maka yg berindak, bersikap adalah “Dia” bukan “aku” lagi
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Potongan ayat ini menegaskan bahwa orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Kebenaran dan kebatilan itu harus didasarkan pada “madlul”nya
Jika kebenaran itu “hanya” didasarkan pada “logik” atau “tidak logik” maka fir’aun itu bisa dianggap benar, Hitler juga bisa dianggap benar, musailamah al-kadzab juga bisa dianggap benar.
Ayat tersebut ditutup dengan
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
sungguh orang yang mengingat nasehat dan mengetahui kebenaran hanyalah orang-orang yang memiliki akal sehat yang terbebas dari hawa nafsu dan syubhat.